admin@sditbn.sch.id
0877 3995 5792

#4 : Semua Agama Benar?

img

Semua Agama Benar?

MENCARI ungkapan “Semua agama benar” atau yang semakna dengannya di dalam kitab Allah, Al-Quran, maupun di dalam hadits-hadits nabi yang shahih sampai yang dhaif sekalipun tidak akan pernah bisa ditemukan. Kalimat di atas juga sangat asing di telinga para ulama mutaqaddimin (salaf) dan ulama muta’akhirin (khalaf) yang tsiqah berpegang pada Al-Quran dan As-Sunnah. Lalu bila demikian, dari mana kalimat dan keyakinan itu berasal?


Jika menelusuri asal-muasalnya, klaim “Semua agama benar” lahir dari perasaan gundah gulana dan rasa iba sebagian cendekiawan dan kaum intelek atas wajah agama yang kerap tampil ambigu atau mendua. Satu saat agama diakui memberikan sumbangsih yang tidak sedikit terhadap peradaban, kebudayaan, dan perilaku baik manusia, namun di pihak lain agama justru seringkali menjadi sumber konflik paling dahsyat yang mengakibatkan terjadinya tragedi kemanusiaan. Dari rahim agama ini tak terhindarkan pertikaian bahkan peperangan antar umat beragama, seperti antara Kristen dan Islam dalam perang salib, bantai membantai antara Katholik dan Protestan di Eropa, Hindu dan Islam di India, Yahudi dan Islam di Palestina, serta sederet bukti-bukti keterlibatan agama dalam kancah perseteruan sesama manusia.


Upaya ke arah perdamaian antar agama telah digagas oleh para tokoh agama. Seperti tahun 1970 di Kyoto dan 1974 di Louvain diselenggarakan World Conference on Religion and Peace. Dilanjutkan pada tahun 1979 di Princeton. Lalu tahun 1993 di Chicago diadakan World Parliament of Religions yang tak tanggung-tanggung diikuti 6500 anggota Majelis Parlemen Agama-agama Dunia. Inti dari sejumlah pertemuan tadi ialah menyadari pentingnya menciptakan perdamaian di antara para pemeluk agama yang berbeda, saling menghargai, saling menolong, saling melindungi, tidak ada perasaan superioritas atau inferioritas.


Dalam memuluskan ide gila ini, kalangan cendekiawan muslim tak segan-segan mencari-cari pembenaran dari ayat-ayat Al-Quran yang kadang dipenggal-penggal dan ditafsiri dengan tafsir sendiri yang validitasnya sangat diragukan. Tak hanya itu, hadits-hadits nabi yang dianggap akan mematahkan argumentasi sesatnya, walaupun telah dishahihkan ahli hadits, sengaja dikritik habis-habisan dengan menggunakan metode yang tidak lazim digunakan oleh kalangan pakar hadits, seperti yang sering dilakukan Fatima Mernisi dan Abu Rayyah yang tidak mau mematuhi rambu-rambu kritik hadits.


Dalam mengusung tema pluralisme, Nurcholish Madjid atau Caknur telah melakukan kekeliruan besar atas maksud surat Asy-Syura ayat 13 yang berbunyi,

شَرَعَ لَكُمْ مِنَ الدِّيْنِ مَا وَصَى بِهِ نُوْحًا وَالَّذِى أَوْحَيْنَا اِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ اِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسىَ اَنْ أَقِيْمُوْا الدِّينَ وَلاَ تَتَفَرَّقُوْا فِيْهِ كَبُرَ عَلَى الْمُشْرِكِيْنَ مَا تَدْعُوْهُمْ اِلَيْهِ أللهُ يَجْنَبِى اِلَيْهِ مَنْ يَشآء وَيَهْدِى اِلَيْهِ مَنْ يُنِيْبُ

“Dia (Allah) telah mensyariatkan bagi kamu apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, dan Isa, yaitu tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada-Nya orang yang kembali.” (Q.S. Asy-Syura: 13).

Tentu setiap muslim yang istiqamah dengan keislamannya tidak akan pernah tergiur oleh produk pemikiran yang rusak seperti yang ditawarkan kaum pluralis, suatu kaum yang amat berat mengatakan kafir pada orang-orang yang sudah dijelaskan oleh Allah dan rasul-Nya tentang kekufurannya. Mereka juga kaum yang senang mengubah maksud firman-firman Allah dengan kesimpulan-kesimpulan yang berlawanan.


Bagi kita, Allah telah menyelesaikan hubungan Islam dengan agama-agama lain secara tuntas dan gamblang melalui Al-Quran dan As-Sunnah. Misi perdamaian yang mereka dengungkan dengan cara mengacak-acak ajaran Islam, tidaklah menyelesaikan masalah, tapi hanya akan melahirkan konflik baru yang berkepanjangan di antara sesama internal kaum muslimin atau antar umat beragama dalam pro-kontra tentang pemahaman kacau yang mereka tawarkan.


Bagaimana mungkin kita harus mempertemukan ajaran Islam yang secara jelas mengesakan Allah, dengan Yahudi, Nasrani, Budha, Hindu atau agama-agama lain yang secara terang-terangan menyekutukan-Nya? Mohammad Natsir, sebagaimana dikutip Adian Husaini, menyebut kaum pluralis sebagai dokter yang memberikan "obat sintesa", obat ini mengandung inti bahwa semua agama sama-sama baik. Natsir melanjutkan, "Akhir kesudahannya menghasilkan satu agama gado-gado, Budha tanggung, Islam tidak, Kristen tak tentu. Walaupun bagaimana, hasil dari perawatan dokter yang macam ini bukanlah agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw."

  • SOCIAL SHARE :